Pengertian E -Learning
Menurut Rosenberg (2006,p28), elearning adalah penggunaan teknologi internet untuk menyampaikan solusi yang meningkatkan pengetahuan dan kinerja, sedangkan menurut Effendi (2005,p4), elearning mengacu pada semua kegiatan pelatihan yang menggunakan media elektronik atau teknologi informasi. Berdasarkan jumal Tsai, kita dapat mengetahui bahwa elearning digunakan untuk dapat menyampaikan materi pelajaran atau pelatihan tanpa adanya batasan tempat dan waktu, yang pada akhimya akan meningkatkan kualitas dari proses pelatihan tersebut. Untuk mencapai kualitas dari pelatihan juga dibutuhkan kolaborasi dari berbagai jenis elearning baik yang bersifat synchronous maupun asynchronous. Sedangkan menurut Ruth, kita dapat mengetahui untung rugi dari penerapan elearning, dimana penerapan elearning bukan berarti akan menghemat biaya, namun membutuhkan biaya yang besar untuk implementasinya seperti biaya pengadaan jaringan, server, maupun infrastruktur teknologi yang lainnya. Selain itu belum tentu semua pihak dalam organisasi mendukung e- learning tersebut karena ada beberapa pihak yang takut pekerjaan & kekuasaan mereka akan terancama dengan adanya e- learning ini. Jadi untuk menjawab tantangan ini makaelearning harus disosialisasikan dengan baik maksud dantujuannnya sehingga mampu mengurangi resistensi penolakan dari pihak dalam organisasi.
Clark dan Meyer (2003, p13) mendefinisikan e- learning sebagai instruksi yang disampaikan di komputer dengan menggunakan CD - ROM, internet, atau intranet dengan fitur- fitur sebagai berikut :
a. Menyertai materi yang relevandengan tujuan pembelajaran
b. Menggunakan metode instruksional seperti contoh dan latihan untuk membantu pembelajaran
c. Menggunakan elemen elemen multimedia seperti text dan gambar untukmenyampaikan materinya
d. Menggunakan knowledge baru dan keahlian yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran secara individual atau untuk meningkatkan kinerja organisasi. Jadi e-learning adalah suatu metode pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi terutama internet.
Keuntungan dan Keterbatasan E-Learning
Menurut Rosenberg (2006, p30) keuntungan e- learning bagi perusahaan adalah sebagai berikut :
1. E- learning menghabiskan biaya lebih rendah
e- learning memotong biaya beban peijalanan, mengurangiwaktu yang diperlukan untuk melatih pekeija, dan mengurangi penggunaan infrastruktur seperti ruang kelas maupun instruktur.
2. E- learning meningkatkan perubahan dalam bisnis
e- learning dapat menjangkau jumlah orang yang tidak terbatas secara virtual dalam waktu yang serempak..
3. Isinya lebih dipercaya dan tepat waktu
Karena berbasis web, e- learning dapat diupdate secara instan, membuat informasi menjadi lebih akurat
dan bergunauntuk waktu yang lama.
4. Learning is easy
Orang dapat mengakses e-learning dimanapun dan kapanpun.
5. No user "ramp up" time
Dengan banyaknya orang yang sudah terbiasa dengan web dan teknologi browser, belajar untuk mengakses e- learning sudah bukan menjadi masalah.
6. Universality (mendunia)
e- learning ·merupakan pembelajaran berbasis web dan mengambil keuntungan melalui protokol internet yang universal.
7. Membangun komunitas
Web memungkinkan orang untuk membangun komunitas latihandimana merekaberkumpul untuk membagi pengetahuan dan wawasan setelah program pelatihan berakhir.
8. Scalability
Program dapat meningkat dari 10 peserta menjadi 100 bahkan 100.000 peserta dengan biaya yang sedikit, selama infrastruktur masih memadai.
9. Meningkatkan investasi perusahaan kepada web
Eksekutif sedang mencari cara untuk meningkatkan investasi mereka pada intranet perusahaan. E- learning merupakan salah satu aplikasinya.
Menurut Effendi dan Zhuang (2005, pp9-15) keuntungan yang ditawarkan oleh e-learning adalah :
1. Biaya
Dengan adanya e-learning, perusahaan tidak perlu mengeluarkanbiaya untuk menyewa pelatih dan ruang kelas serta transportasi peserta pelatihan dan pelatih. Perusahaan tidak perlu menyediakan makan siang, kopi, maupun peralatan kelas seperti papan tulis, proyektor, dan alat tulis.
2. Fleksibilitas Waktu
Karyawan dapat menyesuaikan waktu belajar, karyawan mudah mengakses e-learning. Ketika waktu sudah tidak memungkinkan atau karena ada hal lain yang lebih mendesak, mereka dapat meninggalkan pelajaran e-learning saat itu juga. Banyak program e-learning memiliki fasilitas bookmark. Fasilitas tersebut membuat karyawan yang kembali mengakses e-learning secara otomatis dibawa kehalaman terakhir pelajaran sebelumnya. Oleh karena itu, pelajar dapat dengan cepat dan nyaman melanjutkan pelajaran.
3. Fleksibilitas Tempat
Adanya e-learning membuat karyawan santai mengakses pelatihan e-learning di kantor, bahkan di meja kerja. Selama komputer terhubung dengan komputer yang menjadi server e-learning, mereka dapat mengaksesnya dengan mudah. Terlebih lagi, bila server e-learning terhuhung dengan internet, maka karyawan dapat mengakses pelajaran dari rumah.
4. Fleksihilitas Kecepatan Pemhelajaran
Karyawan memiliki gaya helajar herheda-heda. Oleh karena itu, wajar hila di dalam suatu kelas ada karyawan yang mengerti dengan cepat dan ada yang harus mengulang pelajaran untuk memahaminya. Karyawan yang lehih cepat menginginkan lehih hanyak materi, sedangkan karyawan yang lehih lamhat menginginkan pengulangan pelajaran. Dengan e-learning dapat disesuaikan dengan kecepatan pemhelajaran masing- masing karyawan.
5. Standarisasi Pengajaran
Pelajaran dalam e-learning selalu memiliki kualitas sama setiap kali diakses dan tidak tergantung suasana hati pengajar.
6. Efektivitas Pengajaran
E-learning yang didesain dengan instructional design mutakhir memhuat elajar lehih mengerti isi pelajaran. Penyampaian pelajaran e-learning dapat herupa simulasi dan kasus- kasus, menggunakan hentuk permainan dan menerapkan teknologi animasi canggih.
7. Kecepatan Distrihusi
Kemajuan teknologi yang pesat menuntut suatu pelatihan teknologi haru dilaksanakan secepatnya dan jenjangkau area luas secara singkat.
8. Ketersediaan on- demand
Karena e-learning dapat sewaktu- waktu diakses, e-learning dapat dianggap buku saku yang membantu setiap saat.
9. Budaya
Penggunaan e-learning menuntut self-learning, dimana seseorang memotivasi diri sendiri agar mau belajar. Sebaliknya pada sebagian besar pelatihan di Indonesia, motivasi belajar lebih banyak tergantung pada pengajar.
10. Investasi
Walaupun e-learning menghemat biaya, tetapi suatu organisasi harusmengeluarkan investasi awal cukup besar untuk mulai mengimplementasikan e-learning. Implementasi dapat berupa biaya perancangan dan pembuatan program learning management system, paket pelajaran, dan biaya lain- lain seperti promosi dan change management system. Apabila infrastruktur belum memadai, organisasiharus mengeluarkan sejumlah dana untuk membeli komputer, jaringan,dan server.
11. Teknologi
Karena teknologi yang digunakan beragam, ada kemungkinan teknologi tersebut tidak sejalan dengan teknologi yang sudah ada dan terjadi konflik teknologi sehingga e-learning tidak berjalan dengan baik.
12. Infrastruktur
Internet belum menjangkau seluruh kota di Indonesia. Layanan Broadband adalah media yang dapat dilalui berbagai macam layanan, tidak hanya internet, tetapi juga voice, komunikasi data perkecepatan tinggi (lebih dari 10 Mbps) baru ada di kota kota besar. Akibatnya, belum semua orang atau wilayah dapat merasakan e- learning dengan internet.
13. Materi
Walaupun internet menawarkan berbagai fungsi, ada beberapa materi yang tidak dapat dijalankan melalui e-learning. Pelatihan yang membutuhkan banyak kegiatan fisik, seperti olah raga dan instrument musik sulit disampaikan melalui e-learning secara sempurna.
Content E-learning
Menurut Clark dan Meyer (2003, pp15- 16) mengkategorikan content sebuah e-learning ke dalam 5 tipe konten atau materi yaitu:
1. Fact, yaitu data yang spesifik dan unik
2. Concept, yaitu sebuah kategorisasi pengetahuan yang terdiri daribanyak contoh
3. Process, yaitu cara kelja atau urutan dari aktivitas
4. Procedure, yaitu tugas yang ditunjukkan dengan aksi step by step
5. Principle, yaitu tugas yang ditunjukkan dengan mengadopsiguidelines (petunjuk).
Tipe E-Learning
Menurut Effendi dan Zhuang (2005, p8) mengungkapkan bahwa e-learning itu mempunyai tipe berupa :
1. Synchronous training
Adalah sebuah tipe pelatihan dimana proses pembelajaran teljadi pada saat yang sama ketika pengajar sedang mengajar dan murid belajar. Biasanya tipe seperti ini Iebih banyak digunakan dalam seminar atau konferensi yang pesertanya berasal dari beberapa negara. Tipe training seperti ini sifatnya mirip pelatihan di ruang kelas, namun ruang kelasnya bersifat maya (virtual) dan peserta tersebar di seluruh dunia dan terhubung melalui internet.
2. Asynchronous training
Adalah sebuah tipe pelatihan dimana terjadi tidak pada waktu yang bersamaan. Traine dapat mengambil pelatihan pada waktu yang berbeda dengan pengajar memberikan pelatihan. Biasanya paket pelajaran ini berbentuk bacaan dengan animasi, simulasi,permainan edukatif, maupun Iatihan dan tes dengan jawabannya.
Prinsip E-Learing
Menurut Clark dan Meyer (2003, p273) penerapan e-learning yang baik, harus menggunakan beberapa prinsip sebagai berikut :
1 . Prinsip multimedia
Gunakan teks dan grafik daripada hanya kata- kata. Grafik yang digunakan ialah grafik yang benar -benar berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan dan fungsinya adalah untuk "edukasi, bukan untuk dekorasi."
2. Prinsip "contiguinity"
Letakkan gambar dan teks yang saling berhubungan, berdekatansatu dengan yang lainnya.
3. Prinsip "modality"
Gunakan suara (audio) ataupun teks yang dinarasikan daripada hanya menampilkan teks di layar.
4. Prinsip "redudancy"
Sebuah teks yang ditampilkan di layar dan dibacakan pada saat yang bersamaan hanya akan mengganggu pembelajaran.
5. Prinsip "coherence"
Menambahkan materi- materi menarik tertentu atau menghilangkan hal- hal yg tidak diperlukan.
6. Prinsip ''personalization"
Gunakan percakapan sehari- hari untuk berkomunikasi dengan user.
Suumber Referensi : http://sondis.blogspot.com/2013/04/pancasila-ditinjau-dari-perspektif_4514.html






0 komentar:
Posting Komentar